BERITA

Informasi Dalam Rekaman Lensa

Pencemaran Limbah Minyak Berdampak Panjang Bagi Pariwisata Kepulauan Seribu

Maraknya pencemaran lingkungan tentunya menjadi bom waktu bagi ekosistem sekitar, khususnya di Kepulauan Seribu yang menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Situasi inilah yang kerap terjadi beberapa bulan terkahir di wilayah Kepulauan Seribu, yang bisa mempengaruhi kunjungan wisatawan yang akan berlibur.

Tercatat limbah minyak menjadi permasalahan paling sering terjadi, Pulau Panggang dan Pulau Pari pada tahun 2017 merasakan dampaknya, serta pada awal tahun 2018, pencemaran juga terjadi di Pulau Tidung, dan terakhir ada di Pulau Pantara.

Kondisi ini ternyata tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitar yang menjadi tercemar serta mempengaruhi biota laut di wilayah-wilayah tersebut, namun juga bagi kunjungan wisatawan yang akan berlibur.

Contoh nyata itu terjadi di Pulau Pantara, dimana akibat pencemaran limbah tersebut, para wisatawan membatalkan liburannya untuk berkunjung ke Pulau Pantara yang masuk di perairan Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Situasi ini membuat pengelola Resort Pulau Pantara mengaku telah merugi sekitar puluhan juta, karena para wisatawan sudah booking sejak jauh-jauh hari.

Menanggapi hal ini, Kepala Sudin Pariwisata dan Budaya Kepulauan Seribu, Cucu Kurnia menilai pihaknya menyayangkan hal ini, apalagi kehadiran wisatawan menjadi salah satu kunci promosi wisata Kepulauan Seribu yang banyak memiliki destinasi laut.

“Kondisi ini tentunya berdampak besar bagi wisata Kepulauan Seribu, dan akan mempengaruhi kunjungan wisatawan kedepannya jika situasi ini terus terjadi, karena ekosistem laut menjadi salah satu nilai jual kepada wisatawan,” tutur Cucu, Senin (12/03/2018).

Untuk itulah Cucu berharap masalah pencemaran limbah tidak kembali terulang, dan pelaku segera bisa ditangkap, karena akan berdampak buruk pada aset-aset Kepulauan Seribu yang memiliki potensi besar pariwisatanya.

“Kita tentu menyayangkan hal ini, karena merusak sesuatu aset yang berharga bagi Jakarta Kepulauan Seribu, dan diharapkan kedepan para pelaku sadar untuk terus menjaga lingkungan,” tutur Cucu.

 

 

 

 

Reporter: Petrus A