Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Sudin KPKP) Kepulauan Seribu terus melakukan pengembangan pertanian dengan sistem hidroponik melalui peran serta Kelompok Wanita Tani (KWT).

“Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah, dengan menekan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Dimana kebutuhan air pada hidroponik ini lebih sedikit dibandingan dengan pertanian yang menggunakan tanah, sehingga cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air yang terbatas, salah satunya di Kepulauan Seribu,” kata Kepala Sudin KPKP Kepulauan Seribu, Devi Lidya, Jumat (30/10/2020).

Devi menjelaskan, ada beberapa keuntungan dalam melakukan hidroponik, diantaranya tidak menbutuhkan tanah, tidak tergantung dengan musim, air akan terus bersirkulasi dalam sistem dan bisa digunakanuntuk keperluan lain, steril dan bersih, tanaman tumbuh lebih cepat, bebas dari tumbuhan penggangu / gulma.

“Di Kepulauan Seribu hidroponik telah dilalukan melalui penyuluhan KWT. Pada tahun 2019 ada 6 kelompok KWT yang mendapatkan pendampingan dan bantuan biaya untuk pengembangan pertanian hidroponik dengan skala Pekarangan Pangan Lestari atau P2L,” jelas Devi.

Tercatat ada 6 kelompok P2L yang menjadi percontohan di Kepulauan Seribu, yaitu kelompok P2L Doa Ibu di Pulau Untung Jawa, kelompok P2L seroja di Pulau Lancang, kelompok P2l HF Kampung Kelor di Pulau Tidung, kelompok P2L Hijau Lestari di Pulau Pramuka, kelompok P2L Bougenvil di Pulau Harapan dan kelompok P2L Klapa Hijau di Pulau Kelapa.

“Diharapkan dengan berkembangnya KWT ini, nanti akan menjadikan Pulau Seribu tidak tergantung terhadap kiriman sayuran dari daratan Jakarta, apalagi dimasa pandemi ini aktifitas bertanam skala rumah tangga cukup memberikan makna kepada kebutuhan sehari-hari masyarakat, dan dapat memenuhi kebutuhan sayuran,” tambah Devi.