image 1

Tidung

Seribu Asa Memacu Kebutuhan Asupan Gizi Anak di Kepulauan Seribu

Kategori | Kesejahteraan Masyarakat
Reporter | Petrus Ardianto
Tanggal | 01 Aug 2025
Dilihat | 172x


Pemenuhan asupan gizi yang berkualitas diyakini akan memberikan dampak positif bagi anak Indonesia, dalam mendukung kecerdasan generasi selanjutnya.

Melalui pemenuhan gizi inilah masalah stunting yang tengah melanda berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Kepulauan Seribu bisa dikurangi.

Langkah-langkah strategis terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak demi mendukung asupan gizi generasi muda, khususnya balita.

Melihat kondisi tersebut, PT Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatera (PHE OSES) sebagai perusahaan yang memiliki area kerja di wilayah provinsi DKI Jakarta, Banten, Lampung dan Bangka Belitung, memiliki kepedulian pada kesehatan anak di wilayah Kepulauan Seribu.

Wujud kepedulian yang dilakukan PHE OSES salah satunya dengan mengambil peran aktif dalam mendukung pemenuhan gizi, sehingga menanggulangi krisis stunting.

Melalui program andalan Seribu Asa, akronim dari Selamatkan Stunting dan Gizi Buruk Bersama Pertamina, PHE OSES fokus pada perbaikan kesehatan balita terindikasi stunting dan gizi buruk di berbagai kelurahan yang ada di Kepulauan Seribu, seperti Kelurahan Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Harapan dan Kelurahan Pulau Kelapa.

Kegiatan program Seribu Asa sendiri terdiri dari aktivitas Pemberian Makanan Utama (PMU-red) bagi anak-anak stunting dan ibu hamil dengan kondisi anemia dan Kekurangan Energi Kronis, melakukan sosialisasi terkait metode pembelajaran anak montessori dan penyuluhan 1000 Hari Pertama Kehidupan.

Dalam pelaksanaannya, Program Seribu Asa bersama Kabupaten Kepulauan Seribu melibatkan Tim Dapur Sehat Atasi Stunting atau Tim Dashat, yang terdiri dari para ibu juru masak di tiap keder PKK kelurahan, para kader Posyandu, tiap kader PKK, ahli gizi Puskesmas, Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (Sudin PPAPP). Tim ini juga didukung oleh para Juru Pemantau Jentik (Jumantik), yang berkontribusi memutus rantai penyebaran penyakit demam berdarah yang kerap menjangkiti warga pulau.

Peran Tim Dashat menjadi ujung tombak, termasuk dalam menentukan menu dan bahan makanan yang sesuai, memproses dan memasak, hingga mendistribusikan makanan bergizi ini kepada balita.

Menu makanan dilakukan sebanyak dua kali sehari, berupa kudapan dan makanan utama yang terdiri atas karbohidrat, protein nabati dan hewani, sayur, buah, dan susu bubuk khusus. Kualitas hingga higienitas makanan diawasi ketat oleh ahli gizi setempat.

Demi mendukung suplai bahan makanan yang bermutu, Tim Dashat melibatkan komunitas setempat untuk mendapatkan sumber protein lokal. Bekerja sama dengan nelayan yang dibina PHE OSES, Tim Dashat mendapat pasokan ikan segar. Sementara itu, pedagang tempatan juga menyediakan sumber protein hewani dan nabati, serta sayuran dari pasar lokal.

Program Seribu Asa sudah berjalan beberapa tahun belakang di wilayah Kepulauan Seribu dan membuahkan hasil yang baik.

Pada tahun 2024, Program Seribu Asa memberikan hasil positif dengan membawa 28 anak berhasil keluar dari kategori stunting dan 29 anak mengalami peningkatan tinggi badan. Keberhasilan ini juga dirasakan Kelurahan Pulau Kelapa, dalam hal jumlah balita stunting yang mengalami penurunan hingga 56 persen, dari 39 anak tersisa 17 anak.

Meski telah meraih hasil positif, Program Seribu Asa terus berjalan pada tahun 2025, dengan melibatkan semua pihak, termasuk Kabupaten Kepulauan Seribu di berbagai kelurahan, sebagai komitmen PHE OSES dalam membantu Pemerintah menurunkan angka stunting dan memenuhi kecukupan gizi anak.


POLING

Bagaimana Pendapatmu Terkait Berita Tentang "Seribu Asa Memacu Kebutuhan Asupan Gizi Anak di Kepulauan Seribu" ?