Penanganan sampah secara maksimal menjadi komitmen Sudin Lingkungan Hidup (LH) Kepulauan Seribu, sehingga memberikan rasa nyaman kepada warga dan wisatawan.
Melalui penguatan pengelolaan sampah berbasis sumber, serta peningkatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, menjadi pendukung dalam tahapan penanganan sampah.
“Kami mengajak masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah, khususnya pemisahan sampah organik dan anorganik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pengurangan timbulan sampah yang masuk ke TPS/TPS3R serta mendukung terciptanya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di wilayah Kepulauan Seribu,” kata Kepala Sudin LH Kepulauan Seribu, Aldi Jansen, Kamis (07/05/2026).
Aldi mengaku, petugas Sudin LH Kepulauan Seribu yang tersebar di pulau-pulau penduduk terus melakukan pengumpulan sampah dan membawanya ke TPS untuk dipilah.
“Sampah organik yang telah dipilah akan diolah menggunakan berbagai metode, antara lain Budidaya Black Soldier Fly (BSF) Maggot, tong komposter, kompos tanam, dan pemanfaatan sebagai pakan ternak. Sementara itu, sampah anorganik bernilai ekonomi tinggi akan disalurkan melalui bank sampah untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali. Melalui strategi tersebut,” katanya.
Sudin LH Kepulauan Seribu menargetkan pengurangan signifikan terhadap volume sampah yang harus ditangani di TPS/TPS3R, serta mendukung visi jangka panjang agar sampah dari Kepulauan Seribu tidak lagi dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
“Sebagai bentuk implementasi awal, selama periode 1–6 Mei 2026, Sudin LH Kepulauan Seribu telah melakukan pengelolaan sampah domestik/rumah tangga di sebelas pulau penduduk dengan total volume sampah yang tereduksi sebanyak 2.926,47 kg, dengan sampah organik terkumpul sebesar 2.755,47 kg dan sampah anorganik 212,8 kg. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2849,77 kg berhasil diolah (reduksi-red) melalui beberapa metode pengolahan. Untuk pengolahan sampah organik melalui BSF Maggot sebesar 570,49 kg, Kompos tanam sebesar 1.068,23 kg, pakan ternak sebesar 910,4 kg dan Tong komposter sebesar 221,85 kg. Untuk pengolahan sampah anorganik melalui Bank Sampah sebanyak 156,3 kg,” jelas Aldi.
Aldi menambahkan, untuk total residu yang masih masuk ke TPS/TPS3R untuk penanganan lanjutan tercatat hanya sebesar 5,7 kg.
“Capaian ini menunjukkan bahwa penguatan pemilahan sampah dari sumber dan optimalisasi pengolahan sampah organik mampu menekan jumlah residu secara signifikan, sekaligus menjadi langkah konkret menuju pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan ramah lingkungan di Kepulauan Seribu,” tambahnya.