Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (Sudin PPAPP) Kepulauan Seribu, menggelar webinar edukasi bertajuk “Catin: Aku Sehat, Aku Hebat, Siap untuk Berkeluarga”, yang digelar secara daring.

Kepala Sudin PPAPP Kepulauan Seribu, Simon Baginda Pardomuan Panjaitan mengatakan, persiapan pernikahan semestinya tidak hanya berfokus pada aspek seremonial seperti gedung atau undangan, namun juga kesiapan fisik dan kesehatan pasangan.

“Memastikan kesehatan calon pasangan dan kesiapan membangun keluarga adalah hal yang jauh lebih penting. Dari sanalah upaya mencegah stunting sesungguhnya dapat dimulai,” ujarnya, Senin (10/08/2026).

Menurutnya, masa calon pengantin merupakan golden starting point atau titik awal yang krusial dalam mempersiapkan keluarga sehat. Kondisi kesehatan yang prima sebelum memasuki kehidupan berkeluarga merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri, pasangan, serta generasi yang akan dilahirkan.

Kegiatan ini juga menghadirkan dua narasumber, yakni dr. Ika Maryani, Sp.PD dan dr. Valencia N. Febrianti, MKM.

"Melalui kegiatan ini, para kader diharapkan menjadi pendamping yang aktif mengingatkan dan mengajak pasangan calon pengantin memeriksakan kesehatan ke fasilitas pelayanan kesehatan," ucapnya.

Ia menegaskan, melalui kolaborasi antara Puskesmas, KUA, PKK, hingga Tim Pendamping Keluarga (TPK), calon pengantin diarahkan mengikuti alur pelayanan kesehatan mulai dari tingkat RT/RW hingga mendapatkan Sertifikat Layak Nikah.

Calon pengantin juga diimbau menghindari "Empat Terlalu" (4T) dan mengikuti anjuran usia menikah minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

“Keluarga yang sehat tidak lahir secara kebetulan, melainkan dipersiapkan. Kami ingin setiap pasangan di Kepulauan Seribu memiliki bekal pengetahuan yang cukup sebelum membangun rumah tangga,” tambah Simon.

Sementara itu, salah satu narasumber, dr. Ika Maryani menjelaskan, pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh idealnya dilakukan tiga hingga enam bulan sebelum hari pernikahan. Sebab, sejumlah penyakit dapat berdampak pada kesehatan ibu dan bayi jika tidak terdeteksi sejak dini.

"Misalnya diabetes, maka diperlukan pemeriksaan HbA1c. Selain itu, skrining Hepatitis B sangat penting karena bisa ditularkan dari ibu ke bayi, serta USG abdomen untuk mendeteksi kondisi seperti mioma uteri," terangnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemahaman mengenai faktor genetik, seperti risiko talasemia, serta anjuran konsultasi bagi perempuan dengan mata minus tinggi (lebih dari minus lima) sebelum merencanakan kehamilan.