Matahari menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Pulau Sabira. Di pulau yang berada di ujung utara wilayah DKI Jakarta itu, sinar matahari bukan sekadar penerang aktivitas warga.

Teriknya matahari justru sebagai penentu keberlangsungan usaha pengolahan ikan yang telah dilakukan masyarakat secara turun-temurun. Bagi warga pesisir di Pulau Sabira, panas matahari membantu mengubah hasil tangkapan laut menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi.

Pulau Sabira, yang berada di wilayah Kelurahan Pulau Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, dikenal dengan julukan Penjaga Utara.

Letaknya yang jauh dari daratan Jakarta membuat kehidupan masyarakat di pulau tersebut sangat bergantung pada laut, termasuk sumber daya perikanan yang melimpah seperti ikan selar, kembung dan tongkol.

Di antara beragam hasil tangkapan laut tersebut, ikan selar memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat Pulau Sabira. Ikan yang hidup bergerombol di perairan sekitar pulau itu bukan hanya menjadi salah satu sumber pangan warga, tetapi juga menjadi komoditas yang menopang kehidupan keluarga nelayan dan pelaku usaha pengolahan ikan.

Ikan berukuran relatif kecil dengan warna keperakan ini tidak hanya dikonsumsi masyarakat setempat, sebagian hasil tangkapan para nelayan diramu menjadi ikan selar asin yang kemudian dipasarkan hingga ke wilayah Lampung.

Namun, perjalanan ikan selar dari laut hingga menjadi produk bernilai ekonomi tinggi bukanlah perkara sederhana seperti yang dilihat.

Di balik sepiring ikan asin yang siap disantap, terdapat perjuangan nelayan menghadapi gelombang laut, serta ketekunan para perempuan pesisir yang mengerjakan hasil tangkapan dengan cara tradisional.

Ketua Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Laut (Poklahsar) Ikan Asin Selar, Bungatang mengatakan, hasil tangkapan nelayan sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Ketika ombak bersahabat dan nelayan dapat melaut, hasil tangkapan ikan selar dapat mencapai jumlah yang cukup besar. Sebaliknya, ketika gelombang tinggi dan kondisi laut tidak memungkinkan, pasokan ikan selar ikut berkurang.

"Jika ombak bagus ikan selar bisa mencapai satu ton didapat nelayan. Ikan selar yang ditangkap kita bersihkan dan belah, lalu direndam dengan garam dan dijemur di para-para dengan memanfaatkan terik matahari hingga kering. Tapi itu semua tergantung cuaca yang cerah dan terik, sehingga pengolahan ikan selar asin bisa maksimal," ujar Bungatang.

Selama bertahun-tahun, proses pengolahan ikan selar asin dilakukan secara turun-temurun dengan mengandalkan terik matahari.

Bungatang bersama anggota Poklahsar Ikan Asin Selar yang sebagian besar merupakan istri para nelayan, menggunakan metode panjang itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pulau Sabira. Namun, cara tradisional tersebut memiliki keterbatasan.

Produksi sangat bergantung pada matahari. Ketika hujan turun atau langit mendung, aktivitas penjemuran harus dihentikan. Kondisi tersebut tidak hanya membuat waktu produksi menjadi lebih panjang, tetapi juga menyulitkan kelompok menjaga standar kebersihan dan konsistensi kualitas produk.

Dalam kondisi seperti itu, peluang untuk membawa ikan selar asin Pulau Sabira ke pasar yang lebih luas pun menjadi terbatas dan memakan waktu lebih.

Di tengah tantangan tersebut, sebuah perubahan mulai hadir. Melalui program Pendekar Sabira, akronim dari Pengembangan Usaha Kelompok dan Pemasar Hasil Laut Sabira, Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) menghadirkan rumah pengering ikan bertenaga surya.

Kehadiran fasilitas tersebut menjadi babak baru bagi para pengolah ikan selar asin. Jika sebelumnya mereka sepenuhnya mengandalkan cara konvensional, kini proses pengeringan mulai memanfaatkan teknologi.

Rumah pengering tersebut dirancang untuk memanfaatkan energi matahari guna menghasilkan panas yang lebih stabil. Panas yang diserap kemudian disalurkan ke dalam ruang pengering sehingga suhu dapat mencapai sekitar 55 derajat celsius, termasuk pada malam hari.

Teknologi tersebut diharapkan mampu memangkas waktu pengeringan yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar dua hari menjadi hanya sekitar enam jam.

"Rumah pengering dari PHE OSES bisa menampung ikan sebanyak satu kuintal dalam tahapan proses pembuatan ikan selar asin," tutur Bungatang.

Rumah pengering ikan telah dibangun pada Januari 2024 dengan dukungan PHE OSES, Ketua RW Pulau Sabira, Ali Kurniawan serta Sudin KPKP Kepulauan Seribu.

Meski fasilitas telah tersedia, masyarakat tidak serta-merta langsung meninggalkan cara lama. Saat ini, anggota Poklahsar masih melakukan berbagai percobaan untuk menemukan formula dan standar operasional pengeringan yang paling sesuai, baik untuk ikan maupun produk olahan lainnya seperti kerupuk.

Proses tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan transformasi usaha masyarakat. Sebab, teknologi bukan hanya soal menghadirkan sebuah bangunan atau alat baru. Teknologi harus dipahami, diuji, dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat agar benar-benar memberikan manfaat.

Bagi Poklahsar Ikan Asin Selar, rumah pengering menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas produk dari proses awal hingga produk siap dipasarkan.

Pengeringan yang lebih terkontrol diharapkan dapat menghasilkan ikan asin yang lebih bersih, memiliki kualitas yang lebih konsisten, serta memiliki nilai jual yang lebih baik.

Perubahan itu sekaligus membuka peluang bagi produk Pulau Sabira untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Di balik perubahan tersebut, terdapat peran penting perempuan pesisir. Para anggota Poklahsar Ikan Asin Selar yang merupakan istri para nelayan, selama ini tidak hanya membantu mengolah hasil tangkapan, tetapi juga menjadi bagian dari rantai ekonomi keluarga.

Ketika nelayan pergi melaut, perempuan mengambil peran di darat untuk mengolah ikan hasil tangkapan kemudian dipersiapkan untuk dipasarkan. Peran tersebut perlahan berkembang dari sekadar aktivitas rumah tangga menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Melihat kondisi itu, PHE OSES tidak hanya menghadirkan rumah pengering, tetapi juga memberikan pembekalan kepada anggota kelompok melalui berbagai pelatihan menyeluruh untuk mengembangkan kualitas.

Materinya mencakup teknik pengolahan ikan secara higienis, pengembangan produk olahan yang sesuai dengan kebutuhan pasar, penguatan organisasi kelompok, hingga strategi pemasaran agar produk dapat menjangkau konsumen di luar pulau.

Bagi Bungatang, pelatihan tersebut memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi para anggota Poklahsar Ikan Asin Selar.

"Pengalaman yang kami dapat dari pelatihan tersebut sangat positif. Kami bisa semakin berkreasi untuk menghadirkan sajian produk olahan lainnya. Selain itu membuat Poklahsar Ikan Asin Selar semakin belajar bekerja sama, baik dari sisi merencanakan keuangan dan merencanakan masa depan usaha bersama," katanya.

Ia berharap pendampingan dan pelatihan dapat terus dilakukan, disertai dukungan peralatan yang semakin memadai, sehingga anggota kelompok memiliki ruang lebih besar untuk berkreasi dan mengembangkan usaha.

Bagi masyarakat Pulau Sabira, pengembangan ikan selar asin bukan semata tentang menghasilkan makanan olahan, tetapi ada mata rantai ekonomi yang ingin diperkuat dan dijaga secara berkelanjutan.

Dimulai dari nelayan yang menangkap ikan di laut, perempuan yang mengolahnya, hingga proses pemasaran yang membawa produk tersebut keluar dari pulau.

Setiap mata rantai memiliki peran dalam menciptakan nilai tambah. Kehadiran rumah pengering bertenaga surya menjadi salah satu upaya untuk memperkuat mata rantai tersebut.

Head of Communication, Relation & CID PHE OSES, Indra Darmawan mengatakan, dukungan terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasi menjadi salah satu bagian dari program pemberdayaan masyarakat perusahaan, kehadiran rumah pengering ikan merupakan bagian dari program Pendekar Sabira.

"Program ini juga sejalan dengan poin Sustainable Development Goals (SDGs-red) nomor 1, yaitu pengentasan kemiskinan, dan poin 8, yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi," kata Indra.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada bantuan berupa fasilitas, tetapi ada teknologi yang diberikan, ada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, ada penguatan kelembagaan, serta ada upaya membuka akses pasar.

Dampak pemberdayaan yang dilakukan PHE OSES bersama Kabupaten Kepulauan Seribu dan masyarakat Pulau Sabira telah memberikan pengaruh positif dan mulai terlihat.

Sepanjang tahun 2025, kelompok Ikan Asin Selar yang mendapatkan pendampingan melalui Program Pendekar Sabira berhasil mencatatkan omzet penjualan sebesar Rp21.610.000.

Angka tersebut mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan skala industri besar. Namun, bagi masyarakat sebuah pulau kecil yang berada jauh di ujung utara Jakarta, omzet tersebut memiliki arti penting.

Capaian itu menunjukkan bahwa hasil laut yang sebelumnya hanya dijual atau dikonsumsi secara sederhana, dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah. Jumlah tersebut juga menunjukkan bahwa perempuan pesisir memiliki ruang untuk menjadi penggerak ekonomi keluarga dan kelompok.

Kini, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga keberlanjutan usaha. Rumah pengering harus terus dioptimalkan. Standar pengolahan perlu disempurnakan, produk harus dikembangkan, kemasan dan pemasaran harus diperkuat. Hal yang tidak kalah penting, adalah akses pasar harus diperluas agar ikan selar asin Pulau Sabira tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi mampu menjangkau lebih banyak konsumen.

Di tangan para perempuan Poklahsar, ikan tersebut berubah menjadi produk bernilai ekonomi. Dengan dukungan melalui Program Pendekar Sabira menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi tepat guna dapat menjadi bagian penting, dalam meningkatkan produktivitas usaha masyarakat pesisir serta bisa menjangkau pasar yang lebih luas.