Rencana pengalihan pengelolaan transportasi laut dari Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta kepada PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mulai 2027 mendapat sambutan positif dari masyarakat Kepulauan Seribu.
Kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat konektivitas antar wilayah sekaligus memberikan akses transportasi yang lebih adil, aman, nyaman, dan terjangkau bagi warga kepulauan.
Menurut salah seorang warga Pulau Sabira, Agung, rencana pengalihan pengelolaan transportasi laut kepada Transjakarta sangat posiitf.
Ia menuturkan, saat ini kapal Dishub hanya beroperasi tiga kali dalam sepekan sehingga menyulitkan mobilitas warga, terutama mereka yang membutuhkan layanan kesehatan secara rutin di rumah sakit daratan Jakarta.
"Kami sangat berharap jadwal kapal bisa ditingkatkan menjadi setiap hari dengan harga semakin terjangkau. Selain untuk kebutuhan kesehatan, kepastian jadwal juga penting bagi wisatawan yang ingin berkunjung agar tidak khawatir kesulitan mendapatkan tiket untuk perjalanan pulang," ujarnya, Selasa (11/08/2026).
Agung menilai, keterbatasan akses transportasi juga berdampak langsung terhadap perekonomian warga. Banyak wisatawan, termasuk pemancing, membatalkan kunjungan karena tidak adanya kepastian tiket. Kondisi ini turut berimbas pada menurunnya pendapatan pemilik homestay dan penyedia jasa kapal nelayan.
Agung berharap, PT Transjakarta dapat menerapkan sistem tiket elektronik (tapping) yang transparan dan mudah diakses. Sehingga, warga maupun wisatawan tidak lagi mengalami kesulitan dalam mendapatkan tiket serta dapat mencegah praktik percaloan.
"Kami berharap Transjakarta juga bisa menyediakan transportasi antar pulau. Mungkin bisa bersinergi dengan kapal tradisional milik warga untuk masuk dalam sistem JakLingko Laut," terangnya.
Sementara itu, Anggota Dewan Kabupaten Kepulauan Seribu, Munawar Salagau, menilai integrasi transportasi antar pulau merupakan layanan yang telah lama dinantikan masyarakat.
Ia mengusulkan agar keberadaan kapal tradisional milik warga tidak dikesampingkan, tetapi justru disinergikan dalam sistem transportasi baru dan difungsikan sebagai “JakLingko Laut”.
“Harapannya kapal tradisional bisa dijadikan JakLingko-nya laut. Jadi, Transjakarta melayani rute utama, sedangkan kapal tradisional melayani pengiriman logistik dan suplai BBM hingga ke pulau-pulau permukiman,” jelas Munawar.
Menurutnya, kapal tradisional masih memiliki peran penting, terutama ketika terjadi lonjakan wisatawan pada masa libur panjang. Jumlah wisatawan yang mencapai ribuan orang dinilai tidak akan dapat dilayani secara optimal apabila hanya mengandalkan armada kapal dinas.
Munawar menilai sinergi antara armada Transjakarta, kapal Dishub, dan kapal tradisional masyarakat dapat membentuk sistem transportasi laut yang terintegrasi dan saling melengkapi.
“Ibaratnya Transjakarta sebagai bus besar, kapal tradisional sebagai angkot atau JakLingko, dan speedboat swasta sebagai layanan premium. Dengan begitu, pelayanan kepada masyarakat dan wisatawan tetap terpenuhi secara merata,” tandasnya.
Integrasi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan mobilitas warga, tetapi juga memberikan kepastian layanan bagi masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Kepulauan Seribu.
Menanggapi hal ini, Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan, mengatakan kehadiran Transjakarta di wilayah perairan Jakarta menjadi bentuk perhatian Pemprov DKI Jakarta terhadap masyarakat Kepulauan Seribu.
Menurutnya, kepastian dan kemudahan transportasi laut sangat penting bagi warga yang membutuhkan akses ke daratan Jakarta, baik untuk mendapatkan layanan kesehatan, pendidikan maupun menjalankan aktivitas ekonomi.
“Kami berterima kasih atas perhatian Bapak Gubernur terhadap warga pulau. Ini jelas merupakan bentuk rasa keadilan. Kepastian perjalanan sangat menentukan bagi warga yang harus berobat, bekerja, hingga berdagang ke daratan Jakarta,” ujar Fadjar.