Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan, melakukan Monitoring Operasional Sistem Penyediaan Air Minum Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) PAM JAYA di Pulau Kelapa Dua.

Monitoring dilakukan untuk memastikan kondisi sarana produksi dan distribusi air bersih bagi masyarakat, sehingga tidak ada kendala yang berkepanjangan.

Dalam pengecekan tersebut diketahui SWRO Pulau Kelapa Dua saat ini dalam kondisi off produksi akibat adanya sejumlah kendala teknis.

Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan mengatakan, pemerintah akan berkoordinasi dengan PAM JAYA untuk memastikan kendala pada fasilitas SWRO dapat segera ditangani, mengingat keberadaan air bersih sangat penting bagi kebutuhan masyarakat di wilayah kepulauan.

“Kita ingin memastikan pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan. Karena itu, setiap kendala teknis harus segera ditangani dan dikoordinasikan agar produksi maupun distribusi air dapat kembali normal,” ujar Fadjar, Kamis (13/08/2026).

Fadjar menegaskan, monitoring akan terus dilakukan bersama jajaran terkait agar perbaikan tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga memastikan kualitas air yang dihasilkan memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kita akan kawal proses perbaikannya. Yang terpenting, setelah beroperasi kembali, air yang dihasilkan harus dipastikan aman dan layak untuk didistribusikan kepada masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, Koordinator SWRO PAM JAYA Pulau Kelapa Dua, Andi Ardiansyah menjelaskan, terdapat beberapa kendala yang menyebabkan SWRO tidak dapat berproduksi secara normal.

“Pertama, sensor pembaca tekanan membran tidak terbaca sehingga membuat mesin high pressure mati hidup. Kemudian, air hasil produksi juga berbau,” kata Andi.

Menurutnya, kondisi air yang berbau disebabkan kerusakan pada pompa lumpur yang mengakibatkan lumpur mengendap dan masuk ke jalur produksi. Selain itu, bahan kimia sodium hypochlorite (NaOCl) yang digunakan dalam proses pengolahan air juga telah habis.

“Pompa lumpur rusak dan tidak dapat membuang lumpur yang mengendap, sehingga lumpur masuk ke jalur produksi. Selain itu, tidak ada campuran bahan kimia NaOCl karena persediaannya sudah habis,” jelasnya.

Andi menambahkan, pihak PAM JAYA telah menjadwalkan pengiriman teknisi dari kantor pusat untuk melakukan penanganan terhadap permasalahan tersebut pada 14 Agustus mendatang.

Secara kapasitas, SWRO Pulau Kelapa Dua memiliki waktu produksi sekitar 22 jam per hari dengan hasil produksi sekitar 19 meter kubik per hari. Sementara waktu distribusi kepada masyarakat sekitar dua jam per hari, dengan volume distribusi berkisar 15 hingga 20 meter kubik per hari.