Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Suban Kesbangpol) Kepulauan Seribu, menggelar kegiatan Peningkatan Pemahaman Sistem Deteksi Dini dari Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG), yang diselenggarakan di Gedung Sasana Krida Wisata, Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu Selatan, Selasa (08/09/2026).

Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat serta pemangku kepentingan dalam mendeteksi berbagai potensi ATHG yang berkembang di wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu.

Kepala Suban Kesbangpol Kepulauan Seribu, Achmad Yani Rivai Yusuf mengatakan, sistem deteksi dini memiliki peran penting dalam mengantisipasi berbagai potensi gangguan, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki karakteristik geografis dan sosial yang berbeda dengan wilayah daratan.

"Dalam rangka meningkatkan efektivitas sistem deteksi dini di Kabupaten Kepulauan Seribu, diperlukan tiga penguatan utama, di antaranya sinergitas antar lembaga, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia," ujar Yani.

Menurut Yani, sinergitas antara Kabupaten Kepulauan Seribu, aparatur keamanan, pimpinan komunitas, serta masyarakat perlu terus diperkuat agar komunikasi dan alur informasi berjalan secara cepat, tepat, dan tanpa hambatan.

"Selain penguatan koordinasi, pemanfaatan teknologi juga dinilai penting dalam mendukung sistem deteksi dini. Sistem pelaporan yang cepat dan akurat diharapkan dapat membantu memetakan berbagai potensi gangguan yang terjadi di pulau-pulau. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta dapat menyerap materi dengan optimal, menyamakan persepsi, meningkatkan kewaspadaan, serta membangun jaringan komunikasi dan koordinasi yang semakin solid," kata Yani.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Pulau Untung Jawa, Rusli menilai, kegiatan peningkatan pemahaman sistem deteksi dini penting bagi masyarakat, khususnya di wilayah yang menjadi tujuan wisata.

Menurutnya, Pulau Untung Jawa tidak hanya menjadi tempat tinggal masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

"Sebagai pulau tujuan wisata, tentunya potensi ATHG sangat diperlukan untuk dideteksi sedini mungkin. Dengan begitu, dapat menekan terjadinya gangguan yang dapat merugikan masyarakat di Pulau Untung Jawa," ujar Rusli.

Ia berharap pemahaman yang diperoleh melalui kegiatan tersebut dapat diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat diharapkan semakin peka terhadap kondisi lingkungan dan mampu menyampaikan informasi apabila menemukan indikasi potensi gangguan.