Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Budidaya dan Konservasi Laut (PBKL) Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi ekosistem pesisir di perairan Kepulauan Seribu.
Pemantauan dilakukan untuk memastikan terumbu karang yang telah direhabilitasi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Kepala UPT PBKL Dinas KPKP DKI Jakarta, Andi Dala Jemma mengatakan, pemantauan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan untuk mengevaluasi perkembangan rehabilitasi terumbu karang serta menjaga ekosistem pesisir.
“Konservasi tidak berhenti pada penanaman bibit. Pemantauan diperlukan untuk melihat ketahanan karang terhadap sedimentasi dan perubahan suhu air laut, sehingga pemulihan ekosistem dapat berlangsung optimal,” ujarnya, Kamis (08/10/2026).
Ia menjelaskan, pemantauan dilakukan langsung di bawah permukaan laut dengan penyelaman menggunakan peralatan pendukung. Pemeriksaan mencakup kondisi substrat, pertumbuhan dan tingkat tutupan karang, serta kondisi lingkungan di sekitar lokasi rehabilitasi.
"Sebelumnya kami telah mendistribusikan 10.684 bibit karang ke sejumlah Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat di Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Payung, dan Pulau Lancang," terangnya.
Menurut Andi, keberhasilan konservasi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat pesisir. Kelompok binaan juga diharapkan konsisten menjaga perairan dari aktivitas penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing).
“Kami ingin kelompok pengelola DPL-BM semakin berdaya. Karang yang sehat berdampak pada kelimpahan stok ikan sekaligus membuka peluang ekowisata bahari bagi warga,” katanya.
Sementara itu, Ketua Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat Lestari Indah Pulau Tidung, Lah Mudin, mengapresiasi pendampingan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah, karena tingkat tutupan terumbu karang di kawasan Pulau Tidung Besar saat ini mencapai 59,70 persen dan masuk kategori baik. Sementara itu, tutupan karang di Pulau Tidung Kecil tercatat 33,93 persen atau kategori sedang.
“Kami bersyukur ada perkembangan yang cukup baik. Substrat dan bibit yang diberikan terus dipantau dan dirawat bersama,” tuturnya.
Apresiasi serupa disampaikan Ketua Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat Ekopuri Pulau Pari, Ibe. Ia menyebutkan, fragmen karang yang ditransplantasikan mulai melekat kuat pada media substrat dan beradaptasi dengan baik terhadap arus perairan setempat.
“Bibit karang mulai tumbuh stabil. Kehadiran tim PBKL untuk memantau langsung memberi semangat bagi kami untuk terus konsisten merawat laut,” tandasnya.