PT Pertamina Hulu Energi (PHE) OSES mengajak 131 siswa SD dan SMP Satap Sabira, Kelurahan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu mengikuti kegiatan Edukasi Konservasi Penyu dan Mangrove.
Dalam kegiatan yang melibatkan Rumah Penyu Sabira dan sukarelawan Pencinta Lingkungan Jakarta, para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai ekosistem pesisir, namun diajak terlibat langsung dalam praktik konservasi melalui penanaman simbolis 100 pohon mangrove dan pelepasan 10 ekor tukik penyu ke habitat alaminya.
Menurut Koordinator Rumah Penyu Sabira, Agung , materi yang disampaikan mencakup pengenalan habitat dan siklus hidup penyu, pentingnya ekosistem mangrove, berbagai ancaman terhadap keberlangsungan populasi penyu, serta langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan generasi muda untuk menjaga lingkungan pesisir.
“Rangkaian kegiatan diawali dengan pra tes untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal siswa mengenai penyu, mangrove, dan ekosistem pesisir. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi edukasi interaktif sebelum terlibat langsung dalam praktik konservasi,” kata Agung, Jumat (09/10/2026).
Agung menjelaskan, selama sesi praktik, para siswa dilibatkan terjun langsung untuk menanam 100 pohon mangrove, sebagai bagian wujud dari upaya rehabilitasi ekosistem pesisir. Para siswa juga berkesempatan mengikuti pelepasan 10 ekor tukik penyu ke habitat alaminya. Kedua aktivitas tersebut menjadi pengalaman pembelajaran langsung mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Ia mengaku, melalui kegiatan pelepasan tukik, para siswa diperkenalkan secara langsung pada upaya pelestarian populasi penyu, serta pentingnya menjaga keberlangsungan siklus hidup satwa tersebut.
“Melalui penanaman mangrove, peserta diajak memahami fungsi penting mangrove sebagai pelindung kawasan pesisir sekaligus habitat bagi berbagai jenis biota. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kesempatan untuk memberikan edukasi konservasi kepada adik-adik di SD-SMP Satap Sabira. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai pentingnya menjaga penyu dan ekosistem mangrove. Semoga setelah kegiatan ini, mereka semakin terpacu dalam menjaga lingkungan, dan menjadi generasi penerus yang peduli terhadap konservasi di Pulau Sabira,” ujar Agung.
Sementara itu, Head of Communications, Relations & CID PHE OSES, Danya Dewanti, menyampaikan bahwa edukasi konservasi kepada generasi muda merupakan bagian penting dalam membangun keberlanjutan upaya pelestarian lingkungan di wilayah pesisir.
“Konservasi tidak hanya berbicara mengenai menjaga lingkungan hari ini, tetapi juga bagaimana menumbuhkan kepedulian dan rasa memiliki pada generasi yang akan datang. Melalui kegiatan ini, kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal penyu dan mangrove melalui materi edukasi, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung untuk memahami mengapa keduanya penting bagi ekosistem pesisir. Kami berharap pengalaman tersebut dapat menjadi awal tumbuhnya kepedulian yang kemudian mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Danya.
Menurut Danya, keterlibatan peserta secara langsung menjadi pendekatan penting untuk membangun kesadaran lingkungan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir, khususnya di Pulau Sabira.
“Pulau Sabira memiliki lingkungan pesisir yang menjadi bagian penting dari kehidupan warganya. Karena itu, menjaga kelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan bersama, termasuk dari generasi muda. Kami berharap edukasi seperti ini dapat terus berkembang dan melahirkan agen-agen konservasi cilik yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan kemauan untuk ikut menjaga lingkungan di sekitarnya,” tambah Danya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya PHE OSES dalam memperkuat edukasi lingkungan sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir. Pendekatan edukasi dilakukan secara interaktif agar peserta tidak hanya memahami konservasi secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam menjaga lingkungan di sekitar mereka.
Antusiasme juga terlihat dari peserta didik yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Salah satu peserta, Asrifatul Maulida, siswi kelas 9 SMP Satap Sabira, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan tersebut. “Kegiatan hari ini sangat menyenangkan dan memberikan pengalaman baru bagi kami. Kami bisa belajar tentang penyu dan mangrove secara langsung, termasuk melepaskan tukik dan menanam mangrove. Semoga setelah kegiatan ini kami bisa lebih peduli dan ikut menjaga lingkungan di Pulau Sabira,” ungkap Asrifatul dengan semangat.
Menanggapi hal ini, perwakilan guru SD-SMP Satap Sabira, H. Jamil Fahmi, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan edukasi konservasi tersebut. Menurutnya, pembelajaran di luar ruang kelas memberikan pengalaman berbeda sekaligus memperkuat pemahaman peserta didik.
“Kami sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan edukasi konservasi penyu dan mangrove ini. Kegiatan seperti ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi peserta didik karena mereka tidak hanya mendapatkan materi di dalam kelas, tetapi juga dapat melakukan praktik secara langsung. Kami berharap edukasi mengenai lingkungan dan konservasi dapat terus dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Jamil.