Kabupaten Kepulauan Seribu terus memperkuat komitmen mewujudkan lingkungan pulau yang bersih, lestari, dan berkelanjutan, melalui pengembangan program Pulauku Nol Sampah.

Salah satu pulau berpenduduk yang dijadikan percontohan dalam penerapan program ini adalah Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Pengelolaan sampah terpadu yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, sekaligus mendukung upaya peningkatan kualitas lingkungan dalam penilaian Adipura.

Bupati Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan menegaskan, bahwa upaya mewujudkan Pulauku Nol Sampah tidak cukup hanya dengan mengandalkan kegiatan pengangkutan dan pembersihan sampah.

"Diperlukan perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, terutama dalam memilah sampah sejak dari sumber serta mengoptimalkan pemanfaatan kembali sampah yang selama ini dianggap sebagai residu," ujar Fadjar, Rabu (28/10/2026).

Fadjar mengaku, untuk mewujudkan hal tersebut, pihaknya mendorong keterlibatan seluruh pemangku kepentingan di Pulau Pramuka, mulai dari petugas PPSU, PJLP, tokoh masyarakat, pengurus RW, LMK, kader lingkungan dan kader sampah, hingga pelaku usaha serta masyarakat secara luas.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membangun tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan pulau dan menjaga 2,5 ton sampah yang dihasilkan setiap harinya tuntas di TPS 3R, serta menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

"Dalam mendukung penilaian Adipura, Kabupaten Kepulauan Seribu juga memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis pulau. Dari sebelas pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu, enam pulau telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R-red), sementara pulau lainnya melakukan pengelolaan sampah sesuai dengan fasilitas dan kondisi setempat. Sampah dari pulau-pulau wisata dan kawasan resort terdekat juga didorong untuk dikelola secara mandiri melalui fasilitas pengolahan yang tersedia," tuturnya.

Melalui sistem pengelolaan sampah tersebut, Kepulauan Seribu sejak 1 Agustus Tahun 2026 tidak melakukan pengiriman sampah ke TPST Bantargebang. Sampah tidak lagi dipandang semata-mata sebagai beban yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.

Selain pengelolaan sampah, terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian dalam pembangunan lingkungan hidup berkelanjutan di Kepulauan Seribu, yaitu pariwisata bebas sampah, pengembangan ekosistem bahari, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

"Pada aspek pariwisata bebas sampah, upaya yang dilakukan antara lain melalui implementasi Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026, 100 % rumah telah melakukan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, serta pengembangan dua pulau menuju konsep zero waste, yaitu Pulau Pramuka dan Pulau Bidadari. Langkah ini diharapkan dapat membangun kawasan wisata yang bersih dan nyaman tanpa mengabaikan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan," ucap Fadjar.

Fadjar menjelaskan, pada aspek pengembangan ekosistem bahari Kabupaten Kepulauan Seribu terus mendorong upaya pemulihan dan pelestarian lingkungan laut, antara lain melalui perbaikan terumbu karang, transplantasi terumbu karang dan lamun, serta pemanfaatan bambu menjadi rumah ikan.

Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung pemulihan habitat biota laut sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir dan laut yang menjadi daya tarik utama Kepulauan Seribu.

"Untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat dilakukan dengan mendorong keterlibatan warga dalam rantai ekonomi sirkular melalui kegiatan pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali sampah. Sampah residu plastik, tekstil, pampers yang semula dianggap tidak bernilai menjadi bagian sirkular ekonomi, sedangkan sampah organik menjadi produk yang dapat menghasilkan manfaat antara lain pupuk cair dan pupuk padat, serta sampah organik juga dapat menghasilkan sirkular ekonomi menjadi briket biomasa untuk energi alternatif," jelasnya.

Fadjar menambahkan, melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan, Kabupaten Kepulauan Seribu berupaya membangun sistem pengelolaan lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan, tetapi juga pada pelestarian ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Dengan menjadikan Pulau Pramuka sebagai percontohan Pulauku Nol Sampah diharapkan menjadi gerakan bersama yang tumbuh dari tingkat rumah tangga hingga kawasan wisata, sehingga Pulau Pramuka dapat menginspirasi pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan," tambahnya.